Episode 1. Hal yang baik atau hal yang buruk

Tidak semua hal didunia ini baik. Ada banyak juga yang buruk. Tapi bukan berarti hal yang buruk tidak menghasilkan hal yang baik. Kita mungkin tidak menyadari bahwa dalam kehidupan kita, hal yang baik bisa berakhir menjadi hal yang buruk, atau hal yang buruk malah berakhir baik untuk orang-orang tertentu. Kita tidak pernah tau bahwa apa yang kita rencanakan yang menurut kita adalah hal yang baik, malahan berdampak buruk bagi orang lain. Contoh: seorang pebisnis ingin mengembangkan bisnisnya di sebuah perkampungan, maka dia membeli tanah beberapa hektar dan membangun pabrik di tempat tersebut. Pemikiran dari pebisnis tersebut adalah dengan adanya pabrik yang dia bangun di kampung tersebut, bisnisnya berkembang dan dapat mempekerjakan orang-orang disekitar tempat dia membangun pabrik. Tetapi seiring berjalannya waktu, pablik tersebut menghasilakn limbah yang berdampak buruk bagi sungai di dekat kampung tersebut, yang mengakibatkan masyarakt tersebut terkena penyakit. Ini adalah contoh dimana hal baik bisa menghasilkan hal yang buruk. Selanjutnya adalah contoh hal yang buruk yang mengakibatkan dampak yang baik. Ada dua orang yang menjalani hubungan pacaran. Sebagai anak muda yang baru gede, tentu saja mereka terbakar oleh asmara yang bergebu-gebu membuat mereka berpikir bahwa dunia ini hanya milik mereka. Hingga suatu hari, mereka berdua mengalami percekcokan karena bedanya pendapat. Keduanya saling membantah argumen pasangan mereka, hingga membuat mereka berdua tidak mau saling bicara. Namun akhirnya sang lelaki merenungkan setiap argumen yang disampaikan oleh pasangannya, akhirnya dengan rendah hati, dia menghubungi pasangannya dan meminta maaf. Akhirnya kedua pasangan kekasih ini pun berdamai dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika kita mencoba menggali kenapa hal yang baik bisa berdampak buruk dan hal yang buruk bisa berdampak baik itu dikarenakan oleh rasa egois. Rasa ini sudah lama terlahir dalam diri kita, yang mana kita sadari atau tidak, rasa egois ini sering memimpin langkah kita menuju ke arah yang kita sebut kesenangan atau kepuasaan diri. Seperti contoh di atas, karna tidak menyadari rasa egois yang ada dalam dirinya, sang pebisnis membeli tanah dan membangun pabrik tanpa berpikir dampak yang ada jika pabrik di bangun dengan tidak memperhatikan lokasi sekitar. Ini dikarenakan sang pebisnis berpikir egois yang "terlihat baik" yaitu membantu warga kampung tersebut. Rasa egois kita bisa membutakan kita sehingga kita tidak bepikir rasional, ataupun berpikir lebih dalam, sehingga kita hanya bepikir yang saya anggap baik itulah yang baik, inilah yang membuat kita tidak menyadari keegoisan kita. Sebaiknya pada contoh yang kedua, dimana sang pria mencoba menaklukan pikirannya yang egois, dengan cara merenung sebelum mengambil keputusan. Karena jika ia salah mengambil keputusan, bisa menghasilkan hubungannya dengan pasangannya akan hancur, dan menghasilkan luka bagi sang wanita. Inilah yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana cara kita menguasai diri kita agar tidak terbawah emosi yang membuat kita tidak berpikir rasional, yang mengakibatkan kita dipimpin oleh rasa egoisme kita yang tinggi (sadar ataupun tidak). Untuk dapat terlepas dari rasa egoisme yang menguasai kita, maka sebaiknya kita coba menenangkan diri sambil merenung dan memikirkan matang-matang keputusan kita, seperti apakah keputusan yang saya ambil punya resiko yang besar, apakah yang saya lakukan ini benar, apakah yang saya lakukan dapat berguna bagi orang lain, dan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan keputusan yang akan kita ambil. Misalnya siswa SMA yang akan kuliah, maka yang dia pikirkan tentu hal-hal yang berkaitan dengan jurusan dan universitas yang akan dia pilih. Misalnya apakah orang tua saya mampu membiayayi saya, apakah saya mampu mengerjakan setiap tugas yang dosen kerjakan, dan lain sebagianya. Ingat, memberi waktu menangkan diri sebelum mengambil keputusan mmebuat kita tidak menyesal dengan keputusan yang ada, sehingga kita bisa menghasilkan hal yang baik dari hal yang baik. Kaluapun ada masalah, maka kita coba untuk menghasilkan hal yang baik dari hal yang buruk. Jangan sampai kita menghasilkan hal yang buruk dari hal yang baik yang kita lakukan. Mari belajar dari kesalahan kita untuk menjadi pribadi yang mampu menguasai emosi.Terima kasih

Komentar

Posting Komentar