Episode 4. Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, beneran?
14 Februari adalah tanggal yang paling ditunggu oleh para muda-mudi di seluruh dunia. Bahkan di Indonesiapun hype terhadap tanggal 14 Februari ini pun menjalar keseluruh pelosok negeri. Baik anak-anak muda sampai orang dewasa. Ya Hari Valentine yang selalu diwarnai oleh warna merah muda sebagai lambang cinta, dan coklat sebagai hadiah wujud cinta. Sangat romatis untuk dirasakan oleh sepasang sejoli yang mabuk oleh cinta. Bahkan banyak orang yang mensakralkan tanggal tersebut sebagai tanggal yang harus dirayakan. Ya tidak masalah menganggap tanggal 14 Februari sebagai suatu tanggal yang wow, hanya saja jangan sampai salah sasaran. Ok saya tidak akan membahas mengenai sejarah valentine, ataupun tokoh dibalik tanggal 14 Februari, karena menurut saya, yang membuat tanggal tersebut menjadi hype setiap tahunnya karena super market penuh dengan coklat yang pasti di borong oleh para sejoli ataupun anak-anak muda ataupun orang tua yang ikut dalam kebiasaan tradisi tersebut. Apakah itu hal buruk? menurut saya tidak, ya karena tanggal tersebut membuat banyak pihak bahagia, mulai dari sejoli, anak muda,orang tua, super market dan pabrik coklat. Dengan adanya valentine perputaran uang berjalan dengan lancar, orang-orang senang dapat coklat, dan ada juga yang dapat pasangan baru atau merayakan pernikahan.
Tapi namanya ada hal bahagia, pasti ada juga hal yang tidak membahagiakan. YA! pasti ada. Bahkan pada tanggal 14 Februari. Jika ada yang mendapat pasangan baru, pasti ada juga yang harus berpisah dengan orang yang dicintai. Ada juga yang coba menyatakan perasaannya kepada lawan jenisnya pada tanggal tersebut, dengan harapan akan diterima, apalagi di tanggal yang sakral ini yang bisa menjadi momen yang akan diingat dan mudah dirayakan setiap tahunnya, tapi sayangnya jawaban yang diterima bukan yang diinginkan oleh telinga, hati dan diri yaitu penolakan. Ya! ini hal yang lumrah dan sering terjadi. Bagi kita yang tidak mengalaminya, mungkin kita akan berkata: tidak apa-apa, masih banyak yang lain, atau sudah jangan menyerah, dan patah semangat, atau salah satu kalimat penghibur yang memilik makna yang dalam yaitu: lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi. Ya! mungkin anda pernah dengar, ataupun anda yang menyampaikannya? Apakah benar lebih baik sakit gigi lebih baik dari pada sakit hati, atau sebaliknya?
Jika anda merasa sakit gigi adalah hal yang sederhana, maka anda salah. Sakit gigi bisa sangat membahayakan, bahkan mengarah kepada kematian. Jika anda tidak mengobati sakit gigi anda, tinggal menunggu bom waktu akan meledak dan pasti minimal orang di dekat anda akan mendapat omelan dasyat oleh anda, atau jika anda tidak mengobatinya anda mungkin akan mengalami seperti saudara Vadim Kondratyuk . Ya sakit gigi adalah hal yang serius, segeralah obati (apalagi anda mengkonsumsi coklat dari valentine, jangan lupa gosok gigi)!
Lalu bagaimana dengan sakit hati? Apakah tidak bahaya? Sebenarnya tidak, tapi tergantung orang yang mengalaminya. Jika orang yang mengalami sakit hati adalah orang yang punya fondasi mental yang kuat dan dibina serta merasakan kasih sayang dari orang tua yang cukup waktu masih kecil, peluang untuk mengalami depresi berkelanjutan karena sakit hati adalah kecil, karena dia masih memiliki lingkungan dan orang-orang yang mengasihi dia dan memberikan suport kepadanya. Akan tetapi akan berdampak sangat berat bagi pribadi yang tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya sewaktu masih kecil (misalnya dia mengalami masalah keluarga, sering mendapat perlakuan kasar dari orang tua baik secara fisik ataupun mental, atau mengalami broken home). Ini bisa menjadi traumatis yang berkelanjutan bagi orang tersebut. Dia akan merasa minder, sedih, bahkan bisa melakukan hal yang paling buruk seperti bunuh diri. Oleh karena itu perlunya untuk memberikan dorangan kepada orang-orang tersebut supaya mereka tidak minder jika ditolak dan memberikan suport agar mereka tidak sampai mengalami trauma akan eksistensi diri mereka.
Jika kita yang mengalami hal tersebut, maka mari kita mencari teman lebih banyak untuk membuat kita keluar dari depresi, lalu mencoba hal baru agar kita punya hal yang menjadi counter terhadapat pemikiran negarif kita. Jika kita mempunyai teman yang mengalami hal tersebut, teruslah memberikan suport padanya agar dia tidak merasa sendiri. Sehingga dia mampu berdiri dan tidak takut dengan apa yang dia alami. Jika bukan kita yang memberika suport kepada mereka siapa lagi? Marilah kita belajar dari kesalahan yang masih menganggap bahwa sakit hati ataupun sakit gigi adalah hal yang sepele, kedua-duanya adalah hal yang harus kita hindari, dan kitapun perlu menolong atau memberikan suport kita kepada orang-orang yang mengalami sakit hati. Terima kasih
Benar. mending sehat aja deh. jangan sakit :(
BalasHapus